Tuesday, October 4, 2016

Moving on, Moving up – Tina Astari – Minggu, 25 September 2016

Minggu, 25 September 2016
Moving on, Moving up
Tina Astari

Semua orang pernah mengalami masa padang gurun. Saat di padang gurun jangan berhenti, tapi jalan terus (moving on). Padang gurun bukan tempat penyiksaan, karena Tuhan tidak pernah beri yang jahat pada kita. Apapun posisi seseorang, hamba Tuhan atau jemaat, semua akan diproses Tuhan.

Padang gurun adalah tempat Tuhan memproses hidup kita.

1. Bangsa Israel (Ul 8: 11-18)

dan yang MEMIMPIN engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular- ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, (Ul 8: 15)

supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. (Ul 8: 16b)

Israel dibawa dan dipimpin Tuhan keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian. Jika kita masuk padang gurun, itu bukan hukuman Tuhan. Tuhan yang memimpin, tujuannya selalu supaya kita jadi lebih baik pada akhirnya.

Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan. Atas petunjuk peringatan- peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan. (Mzm 119: 13-16)

Ucapkan mazmur ini dengan bersuara saat kita berada di padang gurun, sehingga telinga kita mendengar, dan hati kita ditarik semakin mengasihi Tuhan dan mengerti jalan-jalan Tuhan.

Jika Tuhan tidak memproses, kita tidak bisa duduk diam dan belajar Firman, merendahkan diri dan hati di hadapan Tuhan

Tujuan padang gurun supaya kita menjadi lebih baik:
  1. Tidak melupakan Tuhan
  2. Tidak tinggi hati.

Saat dalam padang gurun, jangan berkecil hati, karena itulah cara Tuhan mendidik dan mengajar kita.

2. Tuhan Yesus (Mat 4: 1-4)

Tetapi Yesus menjawab: " Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat 4: 4)

Tuhan dibawa ke padang gurun oleh Roh Kudus. Tuhan mengalami prosesnya supaya bisa mengajari kita untuk mengandalkan Firman dalam setiap peristiwa.

Tujuan Tuhan membuat kita jadi lebih baik pada akhirnya: bergerak maju dan bergerak naik.

Jika kita mengerti bahwa makanan di padang gurun adalah Firman Allah, maka padang gurun tidak akan membuat kita terpuruk.

Jangan berhenti dalam lembah kekelaman, karena jika berhenti maka kerohanian akan mati, hidup seperti layangan putus yang tidak tahu tujuannya, tidak tahu siapa dirinya di dalam Kristus.

Kesaksian
Tante angkat bu Tina mengirim kain-kain yang bagus, dia minta bu Tina menjualkannya. Bu Tina minta seseorang menterjemahkan keterangan produk karena dalam bahasa Mandarin. Kemudian bu Tina pelajari barang itu. Dalam 3 bulan, bu Tina bisa menjual dengan cepat dan sesuai target.
Satu kali ada pengiriman sekitar 35 juta. Ada seseorang menelepon dan meminta tebusan. Tim ekspedisi meminta bantuan polisi. Bu Tina berdoa supaya proses lancar.
Saat tidur siang, Roh Kudus membangunkan dan menggerakkan untuk memperkatakan klaim pada iblis, supaya semua dikembalikan. Akhirnya barang bisa kembali, tanpa harus menebus ke pencuri.
Dalam peristiwa ini Roh Kudus ajari bu Tina untuk mempraktekkan Firman menghadapi iblis.

Sebelum jadi anak Allah, perkataan kita tanpa kuasa. Tapi setelah ditebus Yesus, ucapan kita ada kuasanya.

Ilustrasi:
TV canggih, tapi jika tidak tahu cara kerja
remotenya, maka tidak akan berguna

Saat kita tidak tahu cara menggunakan Firman Tuhan dengan tepat, maka tidak berguna.

Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai- sungai di padang belantara. Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai- sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan- Ku; umat yang telah Kubentuk bagi- Ku akan memberitakan kemasyhuran- Ku. " (Yes 43: 19-21)

Kata "membuat" (
‛âśâh - H6213) dalam bahasa asli artinya "berubah menjadi".
Yang mengubah sesuatu itu bukan kita, tapi Tuhan.

Kata "jalan" (= highway) artinya jalan yang besar, bukan jalan kecil.
Kata "sungai" (stream = nâhâr - H5104 ) artinya aliran, termasuk laut.

Jika bukan Tuhan, tidak ada yang bisa membuat: jalan raya di padang gurun dan sungai di padang belantara. Saat di padang gurun kita harus melangkah maju (
moving on) bersama Tuhan, sehingga akhirnya kita bisa moving up, naik ke level berikutnya.

Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya. Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah- tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. (Ul 32: 9-10)

Tuhan mengelilingi, mengawasi dan menjagai kita saat melewati padang belantara. Maka tidak ada hal yang perlu kita takutkan. Tuhan selalu punya tujuan saat Dia ciptakan sesuatu. Yang berbahaya adalah saat kita terhenti di padang gurun. Kita harus terus melangkah maju dan melangkah naik dengan pimpinan Tuhan. Tuhan itu mengasihi kita, dan Dia tidak menghukum kita.

Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati. (Pkh 7: 8)

Kesaksian
Di masa kecil, bu Tina harus mengajari Joseph saat menjelang ujian. Bu Tina mengucapkan Firman dan janji Tuhan supaya Joseph bisa lolos. Orang tua selalu berusaha memberi yang terbaik bagi anaknya. Ternyata yang terbaik adalah mengucapkan Firman.

Saat kita tidak bisa memahami yang terjadi, ucapkan saja Firman sampai itu jadi dalam hidup kita.

Jadilah peniru-peniru Allah dengan mengucapkan Firman Tuhan
  • Allah menciptakan bumi seisinya dari sesuatu yang kosong dengan ber-Firman
  • Saat bertemu iblis di padang gurun - Yesus mengucapkan Firman

Yang diucapkan bukan perkataan kita sendiri, karena itu tidak ada kuasanya.

Sampai dicurahkan kepada kita Roh dari atas: Maka padang gurun akan menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan. Di padang gurun selalu akan berlaku keadilan dan di kebun buah-buahan akan tetap ada kebenaran. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman. (Yes 32: 15-18)

Kerajaan Allah terdiri atas 3 hal: kebenaran, damai sejahtera, sukacita. Jika di suatu masa, salah satu dari 3 hal ini tidak ada dalam kehidupan kita, minta pada Tuhan supaya 3 hal ini ada dalam hidup kita.

Tanda bahwa kita ada di jalur Tuhan: ada kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita di hidup kita

Setiap kali bu Tina datang ke Tuhan, jika mendapat Firman akan menggembirakan. Tapi jika tidak dapat sesuatu, bu Tina terus mencari. Cari dan terus cari, ketuk dan terus ketuk. Karena Tuhan suka dicari. Caranya: baca Firman, pujian, penyembahan, dll.


Korespondensi:
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 5CE70545
WhatsApp, Line, 085 727 868 064

Friday, September 23, 2016

Emotionally Heal – Nala Widya – Minggu, 18 September 2016

Minggu, 18 September 2016
Emotionally Heal
Nala Widya

Seseorang bisa bertumbuh jika sehat. Manusia terdiri dari tubuh-jiwa-roh. Saat lahir baru roh kita dijamah oleh Roh Tuhan. Jika kita makan dengan benar, istirahat cukup, berolah raga, maka tubuh kita sehat. Secara jiwa dan emosi, kita harus sembuh. Banyak orang yang hatinya Kristen, tapi emosi dan pikirannya duniawi, dan ini harus disembuhkan.

Orang yang sembuh secara emosi: Sembuh dari masa lalu, diampuni Tuhan, mampu dan mau mengampuni orang lain.

Yoh 5: 2-9
Betesda = rumah dari belas kasihan (house of mercy) atau rumah dari kasih karunia (house of grace).

Gereja harusnya menjadi house of mercy dan house of grace.

Saat itu Yesus datang khusus bagi satu orang yang sudah sakit selama 38 tahun dan menunggu di situ. Orang ini berpikir dia sakit, dan hanya mengandalkan orang lain, tapi tidak terpikir untuk berusaha beringsut mendekat ke kolam. Orang yang terus menyesali keadaan dan mengasihani diri akan terhenti.

If you cannot fly, then run. If you cannot run, then walk. If you cannot walk than crawl. But whatever you do, you have to keep moving forward (Martin Luther King Jr)

Saat ditanya maukah sembuh, orang ini tidak menjawab ya atau tidak. Ini karena dia sudah terbiasa dan menikmati kondisi sakitnya. Banyak orang tidak mau berubah dari kondisinya karena terbiasa:
  • Dosa yang dibuat terus-menerus akan menjadi kebiasaan, dan membuat tidak lagi merasa bersalah.
  • Kepahitan yang terus disimpan akan menjadi dendam.
  • Penyakit yang sama dinikmati, akhirnya bertambah parah.
  • Ekonomi yang sulit, membuat tidak pernah bisa menikmati berkat.
  • Komunitas yang suka bicara negatif, membuat tidak ada kemajuan.

Tuhan adalah Bapa yang baik, Tuhan mau kita diberkati, sembuh, dan Tuhan bisa memulihkan seburuk apapun kondisi kita.

Jangan terbiasa dengan suatu kondisi yang buruk, harus terus maju (move-on) ke titik yang lebih baik. Jika tidak maju, maka jiwa kita akan sakit.

Jawaban si sakit di kolam Betesda:
1. Menyalahkan orang lain

Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang (Yoh 5: 7a)

Manusia cenderung menyalahkan orang lain: saya jadi begini karena orang tua cerai, ditinggal istri, ditipu orang, dst. Hidup kita hari ini adalah akibat pilihan kita di masa lalu. Maka jika kita tidak menyukai hidup kita hari ini, itu salah kita sendiri. Mari berhenti menyalahkan orang lain

2. Pesimis

dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." (Yoh 5: 7b)

Mari lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, kemudian serahkan hasilnya pada Tuhan. Apapun kondisi kita, Tuhan bisa memakai kita.
Contoh: Nick Vujicic, tanpa tangan dan tanpa kaki, tapi bisa menikmati hidupnya: berenang, surving, menikah, punya 2 anak, menjadi motivator, dll.

3 ucapan Yesus pada si sakit di tepi kolam Betesda
1. Bangun
Artinya kita harus sadar kondisi diri kita. Ciri orang yang sudah bangun seperti si bungsu dalam Luk 15: 17

Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan (Luk 15: 17)

Orang yang bangun akan mempunyai mimpi lagi, mempunyai pengharapan di masa depan.

2. Angkat tilammu

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, (Fil 3: 8)

Bersihkan semua yang lama, ampuni yang sudah lewat, perbaharui pikiran untuk menghadapi masa depan.

3. Berjalanlah

Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Fil 3: 13-14)

Seringkali kita tidak move-on dan tetap di posisi kita. Mari berhenti menangisi diri sendiri, usahakan supaya hidup stabil lagi, lalu move-on karena masih ada hari esok.

Jika engkau tidak mendapatkan mujizat, jadilah mujizat bagi banyak orang (Nick Vujicic)

Korespondensi:
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 5CE70545
WhatsApp, Line, 085 727 868 064

Thursday, September 22, 2016

Healthy Soul – Nala Widya – Minggu, 18 September 2016

Minggu, 18 September 2016
Healthy Soul
Nala Widya

Banyak orang Kristen susah maju, gagal move on, karena jiwanya tidak sehat. Manusia terdiri atas tubuh-jiwa-roh. Saat kita lahir baru, roh kita punya Roh Kudus. Tubuh perlu makan yang betul dan istirahat. Jiwa perlu proses penyembuhan, karena setiap hari kita ber-interaksi dengan orang lain dan selalu ada resiko terluka.

Orang yang jiwanya sehat, emosionalnya sehat: sembuh dari masa lalu, sudah diampuni Tuhan, dan mampu mengampuni orang lain.

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Mat 28: 21-22)

Pengampunan adalah gaya hidup keKristenan. Forgive all the time = 70 x 7, yaitu 490 kali pengampunan untuk satu kesalahan.

Mat 18: 24-26
1 talenta USD $5000. 10 ribu talenta = USD $50 juta = Rp 650M
1 dinar = USD $20. 100 dinar = USD $2 ribu = Rp 26 Juta
Hamba itu berhutang Rp. 650M dan dibebaskan, tapi dia tidak mau membebaskan temannya yang hanya berhutang 26 juta.

Pengampunan itu harus. Karena hutang kita pada Tuhan sangat banyak.

Bahasa Inggris yang digunakan untuk kata “dosa” adalah debt, yaitu hutang yang sudah tidak bisa dibayar. Dosa kita yang seharusnya tidak sanggup kita bayar itu diampuni Tuhan. Sementara saat kita seharusnya bisa mengampuni orang lain, kita tidak melakukannya. Ini bukan masalah jumlah uang, tapi sikap dan tingkah-laku (attitude) kita yang tidak mau mengampuni.

Jika kita tidak mau mengampuni, menyebabkan hal-hal berikut terjadi dalam hidup kita:
  1. Di mata Tuhan kita jahat (wickedness). Dengan tidak mau mengampuni, kita seolah-olah berkata bahwa pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita itu kecil, sementara kesalahan orang lain kepada kita lebih besar.
  2. Mem-provokasi/ menyebabkan kemarahan Tuhan. Jika Tuhan marah pada kita, maka kita tidak bisa meminta berkat pada Tuhan.
  3. Kita disiksa dan diserahkan pada algojo (tortured). Disiksa artinya: disakiti, tapi tidak boleh mati

Penelitian Karl Menninger : 75% pasien RSJ akan sembuh jika mereka mau mengampuni.

Setan memenjarakan kita dalam penjara kepahitan dan kebencian.

Salah satu kunci hidup berkenan pada Tuhan: mengampuni. Sifat Tuhan: mengampuni dan melupakan. When he forgive, HE forget. Saat bertobat, dosa kita di masa lalu sudah Tuhan lupakan.

Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa- dosa mereka. (Ibr 8: 12)

Belajar mengampuni dari kisah Yusuf
Setelah Yusuf menyelesaikan semua prosesnya: dijual, dijadikan budak, difitnah, dipenjara, dilupakan; lalu akhirnya dan mendapat janji Tuhan menjadi penguasa di Mesir, Yusuf berkata:

Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." (Kej 41: 51)

Yusuf lupa kepada kesukaran dan sakitnya, bukan lupa pada kejadiannya.

Kesaksian
Ps Nala dulunya atlet balap sepeda. Bertobat karena kecelakaan fatal: gigi depan sepeda menusuk wajahnya. Akibatnya ada bekas luka di wajah (13 jahitan).
Karena kecelakaan ini ps Nala merasa takut mati, dan akhirnya ikut KKR atlet. Di KKR itu Tuhan jamah hatinya, ps Nala kemudian dimuridkan dan dibabtis di Jakarta.
Saat ini rasa sakitnya sudah lupa, tidak terasa lagi sakitnya. Tapi kejadiannya masih ingat.

Manasye artinya lupa pada kesukaran dan sakitnya (forgetfulness). Kita harus cepat mengampuni. Pengampunan diberikan seketika, tapi kepercayaan dibangun.

Contoh:
  • Saat ada orang yang korupsi uang gereja, ps Nala langsung mengampuni. Tapi orang ini tidak akan segera diberi kepercayaan di bidang keuangan.
  • Walau beberapa kali ditipu jemaat di bidang keuangan, ps Nala tetap mengampuni dan melayani.

Orang yang mengasihi dan membenci kita akan tumbuh bersama. Ampuni semua pembenci (haters) kita, lalu doakan supaya mereka berumur panjang dan melihat kesuksesan kita.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; (Mzm 23:5a)

Anak kedua Yusuf diberi nama Efraim. Efraim artinya berbuah lebat.

Ada berkat yang lebih besar daripada kerugian kita di masa lalu, saat kita mau mengampuni
Saat kita bisa Manasye, akan hadir Efraim dalam hidup kita

Jadikan gereja kita sebagai rumah kasih karunia (house of mercy) yang penuh pengampunan, bukan penuh penghakiman

Kesaksian:
Seorang figur rohani teman ps Nala, rumah tangganya berantakan, bercerai, kemudian menikah lagi. Rekan ps Nala di Amerika tidak ikut menghujat atau menghakimi seperti puluhan ribu orang lain, tapi mengucapkan yang terbaik pada temannya itu. Sikap ini diikuti ps Nala. Ternyata itu membuka pintu hatinya, dan membangun sebuah akses.


Korespondensi:
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 5CE70545
WhatsApp, Line, 085 727 868 064

Thursday, September 15, 2016

Engaging Faith – Jimmy Oentoro – Minggu, 11 September 2016

Minggu, 11 September 2016
Engaging Faith
Jimmy Oentoro

Setiap manusia punya iman, yang disebut normal faith. Normal faith artinya melakukan sesuatu yang normal. Engaging faith adalah iman yang menyambung.

Contoh normal faith :
  • Kita naik pesawat atau kendaraan umum dengan percaya, tanpa menanyakan kondisi kendaraan terlebih dulu.
  • Duduk di kursi dengan santai, tanpa mencari tahu kekuatan kursi itu lebih dulu.

Normal faith tidak salah, tapi ada batasannya. Normal faith hanya berlaku dalam kasus tertentu, tapi tidak akan membawa kita kepada pengalaman-pengalaman supranatural.

Engaging faith digunakan untuk melihat hal-hal yang tidak nampak oleh orang normal.

Ilustrasi beda antara
normal faith dan engaging faith :
Normal faith: Mimbar terbuat dari aklirik, bisa dilihat oleh semua orang. Tapi jika dikatakan ada Roh Kudus di samping mimbar, tidak semua orang bisa mengerti. Inilah iman yang nyambung (engaging faith).

For in it the righteousness of God is revealed from faith to faith; as it is written, “The just shall live by faith (Rm 1: 17, NKJV)

Engaging faith adalah iman yang fokus dan dikaitkan hanya kepada Yesus Kristus. Tidak kepada manusia, hamba Tuhan atau lainnya. Normal faith tidak pernah membawa kita ke Surga. Karena hanya dengan engaging faith kita mengerti bahwa manusia diselamatkan oleh Yesus Kristus.

Sebaik-baiknya pendeta, iman kita tidak boleh nyantol kepada dia/ manusia, tapi harus kepada Yesus. Sejak kita bertobat, keselamatan berfokus pada Yesus. Masalahnya sejak kita bertobat, banyak hal yang membuat bergeser dari fokus pada Yesus, jadi kepada karya Tuhan. Contoh: gedung yang besar, kesembuhan, berkat, jumlah kehadiran, dll.

Mat 8: 1-3 – Contoh iman yang fokus kepada Yesus. Dalam Mat 5-7 Yesus mengajar dan menyembuhkan orang sakit. Di pasal 8 ini orang kusta memberanikan diri mendekati Yesus. Di jaman itu orang kusta di-isolasi.

"Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." (Mat 8: 2b)

Si kusta memberikan pengagungan pada Yesus, tidak menyodorkan kebutuhannya lebih dulu. Si kusta "mencantolkan" imannya kepada Yesus. Dia berkata "jika Tuan mau". Banyak orang Kristen suka menodong Tuhan, doanya berpusat pada kebutuhan dan kemauannya sendiri. Akibatnya perjalanan iman tidak akan sampai.

Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. (Mat 8: 3)

Saat iman si kusta mulai menyambung, Yesus mulai bergerak. Yesus menyentuh orang ini lebih dulu, baru berkata-kata.

Jangan terlalu banyak bicara, tapi harus lebih banyak tindakan nyata.

Engaging faith menghasilkan kathrisso. Katharisso adalah kondisi yang lebih baik setelah Tuhan mengerjakan sesuatu hasil dari sebuah tindakan iman.

Saat hidup kita mentok, tanya Tuhan! Jangan hanya fokus kepada kemauan kita sendiri.

Manusia kerajaan Allah harus punya prinsip: kebenaran Tuhan ada dalam Firman Tuhan. Saat kita melihat masalah dari sudut pandang Allah, maka kita bisa memahami tujuan Tuhan.

Seeing from Gods point of view -> yes, final, done, no doubts-no questions

2Kor 1: 18-20 – Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah, bukan bagi janji kita.

For as many as are the promises of God, they all find their Yes [ answer ] in Him [ Christ ]. (2Kor 1: 20a, AMP)

Ahli Alkitab berkata bahwa ada sekitar 7000 janji Allah kepada manusia yang tertulis dalam Alkitab.
Semua janji Tuhan sudah dijawab Yesus di kayu salib.

Ps Jimmy sudah menyiapkan kebutuhan anak-anaknya: dana untuk sekolah, menikah, bahkan rumahnya kelak. Terlebih lagi Tuhan kita, semua janjiNya bagi kita sudah disediakan.

Saat kita ingin belajar melangkah dengan iman, Tuhan menyertai kita. Tuhan itu master. Tuhan ajak kita fokus pada Nya, dan membawa kita melangkah dari iman normal kepada iman yang nyantol.

How precious also are Your thoughts to me, O God! How great is the sum of them! If I should count them, they would be more in number than the sand; When I awake, I am still with You. (Mzm 139: 17-18, NKJV)

Jumlah pasir 7,5 x 10^13 (7,5 quadrion). Sejumlah inilah pemikiran Tuhan atas kita.
Orang yang imannya nyambung bukan tidak menggunakan pikiran. Orang yang punya engaging faith tidak akan diombang-ambingkan berbagai pengajaran: Yesus di sana, atau Yesus di sini, dst. Iman kita harus pada Tuhan, periksa setiap perkataan pengajar yang kita dengar dengan Alkitab.

Iman yang nyambung membawa kita kepada sabat, bergantung 100% hanya pada Yesus Kristus.
Ibr 4: 1-3

Orang Kristen hanya boleh takut tidak masuk tanah perjanjian.

Naaman sakit kusta. Seharusnya disingkirkan karena berbau. Naaman minta rajanya menulis surat pada raja Israel supaya nabi menyembuhkan Naaman. Nabi tidak menemui Naaman, tapi memberi perintah supaya Naaman mandi 7 kali di sungai Yordan.
Akhirnya Naaman melakukan yang diminta. Saat mandi di Yordan, Naaman harus membuka bajunya, sehingga semua orang bisa melihat kustanya. Saat 6x mandi belum sembuh, tapi Naaman memutuskan untuk melihat dari sudut pandang Allah. Saat mandi yang ke-7, Naaman sembuh total, kustanya hilang.

Kita bisa menggunakan
normal faith untuk mempengaruhi orang lain, tapi tidak akan mengalami katharisso.

Maukah kita terbuka kepada Tuhan ?

God said it! I believe it! And I Amin building life on it: read Holy Bible

Korespondensi:
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 5CE70545
WhatsApp, Line, 085 727 868 064