Friday, June 24, 2016

Roma 8: 28 – Sony Mandagi – Minggu, 19 Juni 2016

Minggu, 19 Juni 2016
Roma 8: 28
Sony Mandagi

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Rm 8: 28-29)

Ayat ini ditulis dalam konteks: bagaimana hidup berjalan di dalam Roh saat sedang mengalami tantangan dan penderitaan.

Ayat ini sering digunakan untuk menghibur orang yang sedang jatuh dan kecewa, menjadi obat bagi jiwa yang sakit, menghibur keluarga yang menghadapi kematian.

Manusia percaya Tuhan bekerja dalam beberapa hal, tapi sulit percaya bahwa Tuhan bekerja dalam segala hal, terutama hal-hal yang tidak baik: sakit, pembunuhan, perceraian, kematian, dll.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang kita alami: yang baik dan yang tidak baik, yang enak dan yang tidak enak.

Allah bukan bekerja nanti setelah suatu kejadian terjadi, tapi Tuhan secara aktif turut bekerja: sebelum, sedang, dan sesudahnya.

Ayat ini mengajarkan bahwa awal kehidupan iman kita adalah Tuhan. Artinya jangan mencari Tuhan hanya saat permasalahan tiba, tapi kita mulai dari melihat Firman Tuhan: mengerti hikmat, kuasa, kebaikan, dan kemuliaanNya, sampai masuk dalam hati kita, sehingga saat menghadapi persoalan kita bisa melihat masalah dalam terang Firman.

Apapun yang Tuhan ijinkan kita lalui, Tuhan turut bekerja sama sejak awal. Tuhan tidak punya kewajiban untuk menjelaskan semua kepada kita. Seringkali tidak ada jawaban yang sempurna, tapi kita bisa yakin bahwa Tuhan bisa dipercaya. Ada masa-masa Tuhan beri pencerahan, tapi ada juga masa-masa kita harus percaya pada kebaikan Tuhan.

Kita tidak bisa mencari secara horizontal akan hal-hal yang hanya bisa dipenuhi secara vertikal

Contoh:
Saat memasuki pernikahan, pengharapan kepada pasangan sangat besar. Jika tidak hati-hati masing-masing akan berharap pasangan membahagiakannya. Tapi ini tidak akan terjadi karena kebahagiaan, sukacita, sejahtera dan rasa aman hanya bisa diberikan secera utuh oleh Tuhan.

Sebaliknya ada orang-orang yang menanti Tuhan bertindak sesuatu, padahal tanggung-jawab ada pada orang itu sendiri, karena Tuhan sudah berikan kuasa untuk bertindak.

Contoh:
Jika ada konflik, orang sering berdoa dan menanti Tuhan memulihkan hubungannya. Padahal Alkitab berkata bahwa kita harus segera minta maaf kepada orang yang kita salahi, maka hubungan akan dipulihkan. Kelihatannya rohani, tapi sebenarnya ini adalah ketidak-taatan.

Hanya Tuhan yang bisa selamatkan jiwa-jiwa. Tapi Tuhan panggil kita untuk proklamirkan Injil, bersaksi, mengajar, menghidupi Firman Tuhan. Yang menentukan hasilnya adalah Tuhan.

Kata "turut bekerja" = work together (KJV) = συνεργέω (G4903) sunergon. Artinya menggabungkan beberapa elemen untuk menghasilkan sebuah produk yang ada nilai dan tujuannya. Jika elemen-elemen itu terpisah-pisah maka tidak jelas fungsinya. Inilah cara kerja Tuhan di hidup kita: menggabungkan semua peristiwa dui hidup kita, baik atau tidak baik, susah atau tidak susah.

Ilustrasi: pabrik assembly mobil
Ada bagian pintu, mesin, kaca, roda, dll. Di ujung proses akan muncul sebuah mobil.

Tujuan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita

Hal-hal yang disebut "baik"menurut manusia: gaji naik, tambah kaya, sehat, dst, semua keadaan yang menguntungkan kita. Jika tidak hati-hati, maka doa kita hanya terpancang pada hal-hal itu.

Segala sesuatu yang dialami di bumi, bertujuan menunjuk dan mempermuliakan pada sang Juru Selamat, yaitu Tuhan Yesus.

Hal-hal yang disebut "baik" menurut Tuhan: menjadi serupa dengan gambaran anakNya (Rm 28: 9). Baik di mata Tuhan artinya: makin diubahkan, makin merendahkan hati, makin seperti Yesus.

Apapun yang membuat kita semakin dekat pada Tuhan, adalah hal yang baik di mata Tuhan.

Yang bisa mengalami kebaikan Allah hanya mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah, yaitu orang yang percaya pada karya keselamatan yang dilakukan Tuhan Yesus.

Kesaksian Ravi Zakarias pada hari doa nasional, Washington DC – USA
Tahun 1971 Ravi diundang untuk menjadi pembicara di Vietnam. Perang masih sengit dan terjadi pembunuhan di mana-mana. Penterjemahnya seorang muda berumur 17 tahun bernama Hien. Dua orang muda ini melayani di Kamp Militer Amerika, di penjara tawanan, dan di rumah sakit militer. Setelah empat bulan berkhotbah Ravi kembali ke USA.

Tujuh belas tahun kemudian, tahun 1988, Hien menelepon Ravi dari Los Angeles. Ravi bertanya apa yang dilakukan Hien di Amerika, dan bagaimana dia bisa keluar dari Vietnam.

Hien kemudian bercerita. Vietnam jatuh ke tangan Vietkong, Hien ditahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Setiap hari dia hanya boleh membaca buku komunis. Di satu titik Hien frustrasi, dan memutuskan untuk tidak mempercayai Tuhan lagi mulai malam itu dan tidak akan berdoa.

Pagi harinya ketika bangun pemimpin pasukan meminta Hien membersihkan jamban. Saat sedang mengeluarkan isi keranjang sampah, terlihat kertas yang berbahasa Inggris. Hien ingin membacanya maka ia membersihkannya dan menaruh kertas tersebut ke dalam kantong pinggangnya. Pada malam ketika semua tidur, Hien membaca kertas itu, dan di sana tercantum robekan Alkitab dari Roma pasal 8.
Saat Hien ingin meninggalkan Tuhan, Tuhan berikan ayat yang paling berharga dan dibutuhkannya. Sejak hari itu Hien menyediakan diri membersihkan jamban setiap hari. Tenyata pemimpin pasukan itu mendapatkan hadiah Alkitab beberapa tahun lalu dan dia merobek halamannya satu per satu dan mengunakannya sebagai kertas untuk membersihkan kotorannya.

Akhirnya Hien dilepaskan dan mulai membuat perahu untuk melarikan diri dengan sekitar 52 orang lainnya. Satu hari 4 tentara Vietkong datang dan menuduh mereka hendak melarikan diri. Awalnya Hien berbohong dan tentara itu pergi. Hien tidak tenang, lalu kemudian bertobat dan berdoa minta ampun. Sebelum mereka berangkat, keempat tentara itu datang lagi dan menanyakan apakah mereka akan lari. Kali ini Hien menjawab dengan jujur. Ternyata keempat orang Vietkong itu mau ikut lari dan naik perahu bersama mereka. Ternyata 4 orang ini mampu kendalikan perahu dalam hantaman badai.

Hien datang ke Amerika Serikat dan menyelesaikan studinya di Berkeley. Sekarang dia seorang pengusaha di sana.


Jangan pernah berfikir Tuhan jauh dari kita, persekutuan yang intim dengan Tuhan adalah segala-galanya. Sehingga saat kita lemah, kita bisa percaya bahwa Tuhan selalu menyertai.

Kita tidak selalu merasa kehadiran Tuhan, tapi kita harus yakin bahwa Dia tak pernah meninggalkan dan undur dari kehidupan kita, karena Dia turut bekerja sama untuk menyelesaikan rancanganNya bagi anak-anakNya.

Tuhan juga turut bekerja sama bagi JKI Injil Kerajaan: dulu, sekarang dan seterusnya.


Korespondensi:
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 2A67038C
WhatsApp, Line, 0878 3377 8822

link kesaksian ps Ravi Zakarias

Wednesday, May 25, 2016

Sikap Hati – Victor Purnomo – Minggu, 22 Mei 2016

Minggu, 22 Mei 2016
Sikap Hati
Victor Purnomo

2Sam 16: 5-14
1. Simei
Daud keluar dari istana saat Absalom memberontak. Hati Daud sedih dan pahit. Kesedihannya bertambah karena Simei mengutuki Daud. Simei adalah keluarga Saul, dan dulunya mendapat banyak fasilitas. Hari itu Simei seperti di atas angin, dan Daud hanya diam dan tidak berbuat apa-apa.

2Sam 19:15 – Daud kembali ke istananya, dan Simei diampuni.

Simei akhirnya mati karena dirinya sendiri. Salomo melarang Simei keluar kota, tapi Simei melanggar karena mengejar budaknya. Akibatnya Simei mati.

Semua emosi, kemarahan, dan kutukan yang keluar dari mulut kita sangat berbahaya, karena suatu kali akan menikam balik hidup kita.

Hidup jangan tergantung perasaan dan
mood. Hidup kita harusnya tergantung apa yang Tuhan mau kita lakukan. Ini membuat hidup kita aman.

Bagi Daud seharusnya mudah: bisa langsung bunuh Simei karena dia raja. Tapi Daud tutup mulut.

Dalam kejadian apapun Tuhan sedang menguji kita. Peristiwa apapun yang kita alami, urusannya bukan antara kita dengan orang lain, tapi urusannya antara kita dengan Tuhan.

Daud tenang karena tahu dia sedang berurusan dengan Tuhan, bukan dengan Simei atau Abisai.

2. Abisai
Abisai orang benar, dan menolong Daud. Tapi dia hampir bertindak salah. Daud melarang Abisai marah. Abisai adalah anak Zeruya. Sebutan "anak Zeruya" dikaitkan Daud dengan ketidak mampuan mengekang emosi.

Cara kita bertindak sedang dilihat Tuhan. Contoh: Saat Daud ingin membawa Tabut Tuhan ke Yerusalem: hati dan maksudnya baik, tapi caranya salah.

Kita harus punya 2 hal: hati kita benar, cara kita juga benar. Tuhan melihat 2 hal ini

Setan suka mengaduk-aduk perasaan manusia. Contohnya saat Tuhan Yesus dicobai, iblis minta Tuhan buktikan Dia Tuhan. Tapi Tuhan tidak perlu buktikan, karena diakui atau tidak Dia tetap Tuhan.

Banyak orang tidak bisa berdamai dengan keadaan, akibatnya marah. Daud adalah orang yang bisa berdamai dengan keadaan, ada ketenangan dan kedamaian di dalam. Abisai dan Simei tidak bisa berdamai dengan keadaan. Saat harus keluar dari istana, Daud tidak komplain dan menagih janji Tuhan.

3. Daud
Daud orang yang berdamai dengan musuh dan orang yang menjahati dia. Karena itulah Tuhan begitu mengasihi dia.

Daud rela melepaskan apa yang dimiliki (2Sam 15: 30)
Daud keluar dari istana dengan sedih: kepala berselubung dan kaki tidak berkasut. Kasut melambangkan hak. Daud rela melepaskan hak sebagai raja, asal tetap mendapatkan Tuhan.

Yang Daud harapkan adalah bertemu lagi dengan Tabut Tuhan jika kembali ke Yerusalem, dan bukan mengharap tahtanya. Yang dikejar Daud di hidupnya: ingin dekat dengan Tuhan dan tidak kehilangan. Saat ada orang yang hatinya seperti itu, Tuhan akan terpikat, dan membuat semua keadaan jadi baik.

Seberat apapun keadaan kita, Tuhan bisa merekayasa dan memulihkan keadaan kita.

Contoh di Alkitab:
Yang membuat Yakub jadi besar: ada Esau dan Laban di hidupnya. Tuhan ijinkan ada 2 orang ini supaya hidup Yakub jadi hebat dan luar biasa.
Yusuf jadi besar karena ada orang-orang jahat di sekitarnya.

Tuhan sedang memperbaiki dan membongkar hati kita, karena sikap hati kita sukar diubah. Jika yang di dalam berubah, yang di luar akan mudah diubah Tuhan. Minta Tuhan urusi yang di dalam kita.

Kesaksian
Seseorang marah pada p Victor karena urusan sepele: tidak terpilih jadi pendoa. Setiap kali bertemu p Victor, dia membuang muka. Tapi Tuhan jagai hati p Victor, sehingga setiap kali bertemu selalu disapa, dan tidak sakit hati.
Satu kali orang itu lari mendatangi p Victor, menangis dan minta maaf, karena dia ditegur dengan keras oleh Tuhan. Saat hati dan respon p Victor benar, Tuhan yang bergerak menegur orang itu

Penelitian Universitas Havard: Keberhasilan seseorang ditentukan 85% oleh sikap hati, dan 15% oleh kemampuan, kehebatan, dan kepandaian.

Sikap hati muncul dari dalam, dan kita tidak bisa berpura-pura

Dalam menghadapi situasi apapun, pilihlah: jadi Daud, Simei, atau Abisai. Semua kondisi kita kita pilih sendiri. Jika kita bisa menetapkan hati kita benar di hadapan Tuhan, maka apa yang sukar bagi kita, dan kita pikir hilang, akan Tuhan kembalikan.

Kita sukar memiliki sikap hati yang benar, karena kita suka membela diri.
Tetapkan pilihan: menjaga sikap hati yang benar.

Pengumuman
Seminar: New wave of Economics System, Rabu 25 Mei 18:30
Minggu 29 Mei 2016 - peneguhan dan pentahbisan bu Tina sebagai gembala jemaat. 07:00


Korespondensi:
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 2A67038C
WhatsApp, Line, 085 727 868 064



Tuesday, May 24, 2016

Menghadapi Perubahan yang Kita Tidak Dambakan – Virgo Handoyo – Minggu, 22 Mei 2016

Minggu, 22 Mei 2016
Menghadapi Perubahan yang Kita Tidak Dambakan
Virgo Handoyo (Dosen Calvary babtist University)




 


Dalam hidup kadang kita menghadapi perubahan-perubahan yang tidak kita dambakan. Penderitaan adalah harga dari kasih yang harus kita bayar. Jika kita tidak meninggalkan orang yang kita kasihi, orang yang kita kasihi itu akan meninggalkan kita.

Seorang ahli mengadakan penelitian tentang hal-hal yang menyebankan stress. Poin tertinggi disebabkan oleh kehilangan pasangan karena kematian (100 poin). Penyebab-penyebab lain: masalah rumah tangga (50 poin), dipecat dari pekerjaan (47 poin), pensiun (45 poin), rumah disita (30 poin).

Meninggalnya p Agung menyebabkan kehilangan dan keguncangan bagi keluarga, jemaat, rekan-rekan, bahkan masyarakat luas yang pernah disentuh oleh pelayanannya.

Jemaat mula-mula juga mengalami stress berat. Yohanes memberi penghiburan pada jemaat:

Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: " Berbahagialah orang- orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. " " Sungguh, " kata Roh, " supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka. " (Why 14: 13)

Orang yang mati di dalam Tuhan disebut berbahagia karena:
1. Orang yang mati di dalam Tuhan bertemu dengan Tuhan muka-dengan-muka

Kesaksian
P Handoyo bertobat Maret 1979. Dia mendoakan keluarganya supaya diselamatkan. P Handoyo mendapat rhema dari sebuah ayat yang tertulis di
white-board ruang sekolah minggu:

Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." (Kis 16: 31)

Seminggu kemudian ada peristiwa mengejutkan. Ibu p Handoyo seperti rohnya keluar, dan bertemu Tuhan, lalu bercakap-cakap dari jam 8 pagi hingga jam 2 siang. Selama waktu itu ibu tidak sadar. Di tengah kondisi tidak sadar ibu ini sempat berkata kepada keluarganya untuk bertobat. Saat bertemu Tuhan, yang bisa diingat ibu ini adalah anaknya yang terkecil. Tuhan ijinkan ibu ini kembali, tapi harus bersedia memikul salib. Ujungnya seluruh keluarga p Handoyo diselamatkan.

Orang yang di dalam Tuhan tidak perlu takut kematian, karena akan bertemu Tuhan face-to-face

2. Orang yang mati dalam Tuhan beristirahat dari jerih lelahnya

P Agung pernah sakit jantung, dan sudah di ring. Tapi aktifitasnya luar biasa, harus bertanggung-jawab terhadap banyak pelayanan.

3. Perbuatan orang yang mati di dalam Tuhan menyertai mereka.
Pepatah: Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Hingga hari ini, karya-karya p Agung masih dibicarakan di Semarang, Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Perbuatan kita akan selalu menyertai kita, baik itu hal yang baik atau jahat.

Suatu kali Alfred Nobel terkejut membaca orbituari laporan kematiannya. Redakturnya salah mencantumkan nama, karena yang seharusnya meninggal adalah kakaknya. Nobel melihat bagaimana kesan-kesan orang mengenai dirinya: penemu dinamit, peledak, penghancur. Nobel tidak suka dengan orbituari itu, dan ingin membuat citra dirinya berubah, bukan penghancur tapi pendamai.
Nobel kemudian menulis wasiat bahwa setiap tahun dia ingin memberi hadiah dan penghargaan pada orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan mulia, yang membuat perbaikan dalam kehidupan. Bidangnya mula-mula 5 : fisika, kedokteran, perdamaian, literatur, dan kimia. Beberapa waktu kemudian ada 1 kategori tambahan: ekonomi.
Nobel berhasil merubah citra dirinya.

Selama masih hidup di dunia, Tuhan beri kita kesempatan mengubah tapak-tapak hidup kita.

Tindakan yang harus dilakukan oleh mereka yang kehilangan seseorang karena kematian: kenali rasa kehilangan kita. Ada perubahan status dari orang-orang yang ditinggalkan. Dari istri menjadi janda, dari anak yang punya orang tua lengkap jadi hanya punya satu orang tua.

Seorang ahli meneliti bagaimana manusia meresponi perubahan yang mendadak. Kesimpulannya ada 5 tahapan (
stage):
1. penyangkalan (denial)
2. kemarahan/ konflik
Rasa sakit karena perubahan yang mendadak membuat seseorang memproyeksikan kemarahannya pada orang lain disekitarnya. Misalnya: keluarga saling menyalahkan.

3. tawar-menawar (
bargaining)
4. depresi
Menurut riset puncak depresi ada di bulan ke-6. Secara statistik kedukaan akan pulih dalam 1 tahun. Tapi jika tidak sanggup menangani kesedihan akan berlangsung lebih lama.

5. penerimaan (
acceptance)
Menerima realitas yang ada, move on. Jika sampai pada titik ini, fokus berubah menjadi restorasi/ pemulihan. Pemulihan yang dilakukan: sistem keluarga, identitas, penyesuaian dengan status yang baru, menata ulang organisasi dan pelayanan.

Proses pemulihan ini perlu waktu, kesabaran, toleransi satu-sama lain, kesehatian, unity, tema work yang saling men-support.

Jemaat yang sehat mampu menghadapi perubahan mendadak dengan dinamis dan bijaksana.

Betul bahwa kita mengalami stress, terguncang (shock), menderita (suffering), tapi melalui semua itu kita akan naik dan melayang terbang seperti rajawali bersama Tuhan.

Teruskam misi dan visi p Agung: jangkau dan menangkan semua jiwa-jiwayang terhilang berapapun harganya (
win the lost at any cost)

Sikap Hati – Victor Purnomo
Jika keadaan yang kita ingin ubah tidak bisa diubah, Tuhan bisa ubah hati kita. Perubahan hati lebih kuat dari perubahan di sekitar kita.

Saat Absalom berontak dan Daud harus lari, ada 3 orang yang terlibat: Simei, Abisai, Daud. Respon ketiganya berbeda, dan kita harus memilih salah satunya.

Simei: mengutuki Daud, mengucapkan kata-kata yang jahat dan negatif, menumpahkan semua perasaannya. Saat Daud kembali ke istana, Simei ketakutan dan menyesal. Daud mengampuninya.

Ilustrasi:
Kemarahan itu seperti menghamburkan bantal berisi kapuk. Saat menyesal, tidak mungkin mengumpulkan semua isinya kembali.

Saat marah dan kecewa- jangan diungkapkan semua, simpan, supaya kelak kita tidak menyesalinya

Abisai: marah dan ingin memenggal Simei. Abisai adalah tipe orang yang suka membunuh orang yang menyakitinya. Mungkin secara fisik, atau secara mental. Daud minta Abisai supaya tenang.

Daud: menerima semua yang dialami sebagai kehendak Tuhan. Daud keluar dari istana tanpa kasut, melambangkan dia melepaskan haknya. Yang Daud pikirkan adalah Tabut Tuhan, berharapkan bisa melihat lagi Tabut Tuhan, jika Tuhan kembalikan Daud ke istana.

Ketenangan Daud membuat Tuhan mengembalikannya ke istana dan tahtanya.

Kitalah yang menentukan sikap hati kita. Minta Tuhan ubah hati kita sehingga sanggup menghadapi semua situasi.

Penelitian Universitas Havard: Keberhasilan seseorang ditentukan 85% oleh sikap hati, dan 15% oleh kemampuan, kehebatan, dan kepandaian.

Jaga hati kita, karena itu modal terbesar kita.

Pengumuman
Seminar: New wave of Economics System, Rabu 25 Mei 18:30

Minggu 29 Mei 2016 – peneguhan dan pentahbisan bu Tina sebagai gembala jemaat. 07:00

Korespondensi:
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 2A67038C
WhatsApp, Line, 085 727 868 064

Saturday, May 14, 2016

Tongkat Musa – Victor Purnomo – Minggu, 01 Mei 2016

Minggu, 01 Mei 2016
Tongkat Musa
Victor Purnomo

Kesaksian
P Victor dan keluarga pernah menjadi misionaris di negara Palau. Baru 1 minggu, bu Victor sakit di perutnya, ternyata ada cairan yang membahayakan jiwa, dan harus di operasi. P Victor tidak kenal siapapun, biaya operasi sangat mahal, jauh dari Indonesia, pikirannya jadi kalut. Hari itulah saat terbaik bagi p Victor untuk berteriak minta pertolongan Tuhan.
Di tengah kondisi itu, Tuhan hadir dan memberi kedamaian dalam hati p Victor. Untuk operasi diperlukan 5 kantong darah. Ternyata di hari yang sama ada 28 orang Indonesia yang baru datang di pelabuhan, mereka adalah murid-murid IMPACT yang sedang melaksanakan misi. Dari mereka diperoleh 5 kantong darah.

Tuhan tahu yang kita butuhkan, dan sedang atur apapun untuk menolong hidup kita

Saat Israel terjepit: di depan laut, di belakang tentara Mesir mengejar. Maka tidak ada jalan selain melihat ke atas, mencari pertolongan dari Tuhan yang ciptakan segalanya. Saat Musa mengambil dan mengangkat tongkat otoritasnya, Tuhan membelah laut dan membuka jalan bagi orang Israel.
Tapi orang Mesir tidak bisa mengejar karena jalan itu hanya Tuhan sediakan untuk orang Israel. Saat Musa mengangkat tongkatnya sekali lagi, laut kembali menutup dan menenggelamkan orang Mesir.

Kel 4: 2-4
Saat Tuhan memanggil Musa, tongkat Musa hanyalah tongkat biasa yang juga dimiliki gembala-gembala yang lain. Hari itu Tuhan ubah tongkat biasa jadi luar biasa, artinya ada otoritas yang Tuhan berikan pada Musa. Saat dilempar ke tanah, tongkat menjadi ular. Saat dipegang ekornya, ular itu berubah jadi tongkat kembali.

Tuhan beri kepercayaan-otoritas-kuasa di tongkat Musa. Tapi itu sewaktu-waktu tongkat itu bisa berubah jadi ular yang berbahaya, yang bisa mematuk pemiliknya. Jika Musa bisa menangani tongkat itu dengan baik, maka tongkat itu tidak pernah menjadi ular.

Masing-masing kita dipanggil sebagai pemimpin, dan Tuhan beri tongkat otoritas. Jika kita tidak mampu handle dengan baik maka suatu ketika tongkat itu akan jadi ular yang bisa menghancurkan.

Dalam sejarah Perancis, ratu Mary Antoinette dipenggal dalam revolusi Perancis. Ratu ini punya kuasa, tapi tidak bisa memegang kekuasaan dengan baik, ujungnya mati dipenggal.

Musa meminta kepada Firaun supaya bangsa Israel bisa keluar dari Mesir, tapi Firaun menolaknya. Dengan tongkatnya Musa mendatangkan tulah demi tulah kepada Mesir. Tongkat itu sekarang punya kuasa. Sebelumnya selama 40 tahun, tongkat Musa adalah tongkat biasa dan hanya untuk menggembalakan domba. Di masa 40 tahun itu Tuhan sedang mengerjakan bagian dalam Musa, untuk mencabut semua budaya duniawi Mesir, Tuhan gantikan dengan budaya surga.

Tuhan juga membuat proses di hidup kita, sehingga semua yang duniawi dicabut keluar, dan Tuhan gantikan dengan budaya surgawi.

Bahaya tongkat:
Sebuah otoritas bisa berubah menjadi otoriter. Saat berubah jadi otoriter, semua dilakukan dengan kemampuan, kesanggupan, dan kekuatan sendiri. Akibatnya banyak hidup orang yang hancur.

Tidak ada pemimpin yang kebal dari bahaya ini: orang yang punya otoritas berubah jadi orang yang otoriter, yaitu mengerjakan dengan kekuatan dan kesanggupan manusia.

Saat proses pembentukannya selesai, tongkat Musa berubah jadi tongkat Allah.

Saat akan naik ke gunung Tuhan, Musa beri otoritas kepada Harun untuk menggembalakan orang Israel. Musa sangat menikmati hadirat Tuhan dan berlama-lama di atas gunung. Karena Musa terlalu lama, orang-orang Israel minta Harun berbuat sesuatu, ujungnya mereka membuat dan menyembah patung anak lembu emas. Otoritas Harun digunakan secara salah, akibatnya Tuhan akan musnahkan seluruh bangsa Israel. Tongkat itu jadi seperti ular yang akan memusnahkan.

Where there is no vision, the people perish (Ams 29: 18a, KJV)

Otoritas tanpa visi itu mematikan. Setiap pemimpin harus punya visi, tahu apa yang dilakukan di depan. Jika tidak, maka akan ada keliaran dan kematian.

Musa, Harun dan Hur naik ke gunung, sementara Yosua memimpin peperangan. Setiap kali tongkat Musa diangkat bangsa Israel menang, saat tongkat turun bangsa Israel kalah. Maka Harun dan Hur menopang tangan Musa hingga Israel mengalami kemenangan total.

Tongkat otoritas dari Tuhan akan membawa kemenangan demi kemenangan dalam hidup kita.

Bil 20: 8-12
Umat Israel haus, mereka marah dan menyalahkan Musa. Tuhan perintahkan Musa mengambil tongkatnya, lalu berkata kepada gunung batu supaya mengeluarkan air. Musa melakukan hal yang berbeda: memukul gunung batu. Walau tidak sesuai perintah Tuhan, kuasa tongkat tetap bekerja.

Tongkat Musa punya kuasa karena diletakkan di hadapan Tuhan

Tapi Tuhan tidak suka dengan yang dilakukan Musa karena:
1. Musa tidak percaya
Kata "tidak percaya" dalam bahasa aslinya berarti "tidak mendukung"
Musa berada di tengah antara Tuhan dan bangsa Israel. Tanpa Musa sadari, semua keluhan dan kemarahan orang Israel masuk ke Musa. Dampaknya tiba-tiba Musa bergeser, tidak lagi di pihak Tuhan, tapi jadi sepihak dengan orang Israel yang protes dan menentang Tuhan.

2. Musa tidak menghormati kekudusan Tuhan.
Saat memukul gunung, Musa berkata "kami mengeluarkan air", seolah-olah yang melakukan adalah Musa dan bukan Tuhan. Ini karena Musa sudah terbiasa melakukan mujizat dengan tongkatnya.

Otoritas kita adalah milik Tuhan, kita hanya mendapat pinjaman.

Because they rebelled against His Spirit, So that he spoke rashly with his lips (Mzm 106: 33, NKJV)

Kepahitan yang dialami Musa masuk hingga ke rohnya, bukan hanya di tubuh dan perasaan. Akibatnya Musa mengucapkan sesuatu yang salah.

Otoritas tanpa visi membinasakan.
Otoritas ditambah kepahitan dan kemarahan mendatangkan kerusakan yang besar.

Raja Uzia punya otoritas sebagai raja. Saat memegang bokor ukupan, dia marah, maka terkena kusta. Hingga matinya Uzia tidak lagi jadi raja.

Musa selamat dan masuk surga, buktinya bertemu saat Yesus ber-transfigurasi. Tapi Musa tidak bisa masuk tanah perjanjian.

Pegang tongkat otoritas kita dengan kuat, minta bantuan Tuhan supaya bisa setia, dan tongkat itu tidak pernah jadi ular.

Yesus ajarkan dalam doa "Bapa kami": datanglah kerajaanmu, jadilah kehendakMu. Ini doa yang mengerikan, karena saat kerajaan Tuhan datang, kerajaan kita akan hancur. Jika kita bangun kerajaan kita dengan begitu kuat, Tuhan jadi sukar membangun kerajaanNya di hidup kita. Tuhan mau beri fondasi baru bagi hidup kita, sehingga Tuhan bisa bangun kerajaan Tuhan di hidup kita.

Korespondensi:
@Antonius_FW (tweeter); pin BB 2A67038C
WhatsApp, Line, 085 727 868 064